Thursday, December 5, 2013

Based On The True Story


Siang semua, hari ini aku mau ngepost cerita nih. Sebelumnya udah pernah aku post di catatan di facebook sih. Tapi berhubung punya blog sekarang aku mau post disini juga deh :D


Cerita ini aku buat berdasarkan kisah nyata seorang sahabatku Reza Egi Perdana . Cerita ini juga aku tulis berdasarkan penuturan dari dia sendiri dan pengalamanku sendiri karena aku juga terlibat didalamnya. Dan cerita ini juga aku buat untuk mengenang almarhumah Ariestia Egidia Savitri adik kandung dari Reza sendiri. Tidak bermaksud untuk membongkar aib atau menjelek – jelekan siapaun didalam cerita ini, cerita ini aku buat hanya untuk menuangkan hobi menulisku dan sang pemilik cerita pun bersedia ceritanya dipublikasikan hehe...So, silakan membaca ya teman – teman mohon saran dan kritiknya baik dari segi tata cara penulisan dan alur ceritanya.




Ariesta Egidia Savitri  yang akrab disapa Icha adalah seorang gadis cantik dengan rambut terurai panjang sepinggang berwarna hitam dan memiliki tubuh tinggi semampai. Pokoknya dia memiliki fisik yang hampir sempurna untuk seorang cewek. Icha juga pintar, bagaimana tidak umur 15 dia sudah lulus SMA. Selain pintar dia juga supel dan mudah bergaul dengan siapa saja. Icha memiliki seorang kakak  yang sayang banget sama dia. Namanya Reza, cowok ganteng, tinggi, putih namun rada-rada gokil en gak jaim-an.




Malam itu HP Icha berdering. Tampak dilayar HP tertera nama ”Si Gatel Reza”. “Centil, lu ngapain di Pekanbaru sendirian? Gue, mama, papa udah pada balik ke Surabaya lagi sejak 2 taon yang lalu dan lu masih nangkring disana”, cerocos Reza tanpa basa-basi begitu telpon dijawab. ” Nangkring-nangkring, emangnya burung nangkring dipohon. Gue gak sendirian kok, kan gue tinggal bareng tante disini”, jawab Icha. ”Ya tapi gak ada yang ngawasin lo dek disana, gue khawatir aja ma lo kalo sampe terjadi apa-apa gimana?”, jelas Reza. ”Kan ada tante”, jawab icha ngeles. ”Pokoknya gue udah bilang ama papa en mama kalo lo tuh harus balik ke Surabaya, lo masih punya keluarga dek, gak pantes tinggal ma keluarga orang. Lagipula lo cewek! Oh ya, tiket pesawatnya udah dipesenin ama papa, besok lo tinggal ngambil di tour & travel langganan kita yang di Pekanbaru. Lo berangkat tanggal 24 Juli hari jumat lusa”, jelas Reza panjang lebar. ”Hah??? Secepat itu? Apa-apaan sich lo Za? Gue masih betah kok disini. Tenang aja gue gak apa-apa kok, gue masih bisa jaga diri gue sendiri”, Jawab Icha lagi mempertahankan dirinya agar tetap berada di Pekanbaru. ”Lo disana juga udah gak kuliah kan, mendingan lo kuliah disini entar gue bantuin cariin kampus yang oke buat elo trus gue bantuin lo daftar, enakkan?” Kata Reza. ”Udah, gue gak mau tau pokoknya lo harus ambil tuh tiket besok, tiketnya udah dibayar ama papa”, lanjut Reza. ”Tapi Za...”. ”Udah ya, gue mau tidur, besok gue kuliah masuk pagi. Bye...”, telpon pun ditutup. Icha hanya bisa diam bengong tanpa bisa berkata apa-apa lagi.




Icha memang sudah kuliah di Pekanbaru disalah satu Universitas negeri di Pekanbaru. Namun, sejak semester 2 dia berhenti dan lebih memilih kerja sebagai SPG dan terjun kedunia modelling di kota itu. Namun Reza yang paling menentang dengan pekerjaannya itu. Karena menurut Reza kerja sebagai SPG itu rawan digodain sama cowok-cowok iseng dan pria hidung belang, dia takut kalo Icha sampai diapa-apain. Terus dunia modelling juga menurut Reza terlalu glamour dan suka hura-hura padahal tidak semua model seperti itu. Toh, Icha juga tidak serius dibidang itu, cuma sekedar untuk menyalurkan hobi, mengisi waktu dan untung-untung dapat uang.




Keesokan harinya Icha pun mengambil tiket pesawat ditemani sang pacar. Tampak didalam mobil terjadi perbincangan antara Icha dan pacarnya. ”Sayang, aku harus pindah ke Surabaya. Keluargaku gak ngizinin aku disini lagi”, kata Icha sambil menundukkan kepalanya. ” Loh, kenapa sayang?”, jawab sang pacar. ”Tidak ada yang ngawasin dan jagain aku disini”, jawab Icha dengan masih menundukkan kepalanya. ” Kan ada aku sayang”, jawab sang pacar lagi. ” Pokoknya aku harus pindah sayang, aku gak bisa nolak”. ”Terus kamu tega ninggalin aku sendirian disini? Terus hubungan kita gimana?”, tanya sang pacar dengan nada kecewa. ”Terserah kamu, tapi aku tidak bisa long distance”, jawab Icha. ”Sayang, aku gak mau pisah ma kamu. Walaupun long distance kita coba ya...”, mohon sang pacar sambil menggenggam tangan Icha. ”Baiklah...”, Icha pun mengangguk.




Tibalah hari jumat dimana Icha harus terbang ke Surabaya. Dengan langkah gontai Icha masuk keruang pemberangkatan. Masih terbayang begitu beratnya lambaian tangan sang pacar melepas kepergian dirinya. Didalam pesawat Icha hanya bisa termenung menatap jendela, entah apa yang dipikirkannya pada saat itu. Yang ia rasakan hanyalah begitu berat rasanya meninggalkan Kota Pekanbaru yang ia tinggali selama 5 tahun. Ia harus meninggalkan teman-temannya, pekerjaannya dan juga pacarnya.  Tidak terasa setelah beberapa jam pesawat pun mendarat di Bandara Juanda Surabaya. Jam menunjukkan pukul 5 sore. Icha pun keluar dengan susah payah membawa barang-barangnya yang seabrek - abrek. Reza menunggu dipintu kedatangan. ”Cha...”, panggil Reza sambil melambaikan tangan. Icha pun menoleh dan langsung berjalan kearah Reza. ”Wah, barang lo banyak banget!”, kata Reza. ”Ya iya lah, namanya juga orang pindahan!”, jawab Icha sewot. Reza  membantu Icha membawa barang-barangya dan memasukkan semua ke bagasi mobil. Mereka pun lalu masuk kemobil dan mobil pun melaju meninggalkan Bandara menuju rumah.




Tiba dirumah Icha pun disambut dengan hangat oleh kedua orang tuanya. Dipeluk, dicium, dimanja semua buat Icha. Reza yang melihat itu mendadak pun jadi iri seketika. Setelah itu mereka pun makan malam bersama dirumah. Kebetulan mamanya sengaja masak hari itu khusus untuk menyambut kedatangan Icha, padahal biasanya mamanya gak pernah masak. Jangankan masak, dirumah aja jarang pikir Reza.




Selama di Surabaya Icha kemana-mana selalu ditemani sang kakak tercinta, Reza. Pagi itu mereka dalam perjalanan ke salah kampus swasta yang cukup ternama di Surabaya. ”Za, lo ngapain sich buntutin gue mulu dari kemaren?” tanya Icha sewot. ”Gue gak buntutin lo kok, emang tugas gue nganterin en nemenin lu kemana-mana kan?” jawab Reza santai. ”Ya tapi gue risih tauk! Gue juga bisa pergi sendiri kok gak perlu lu anterin gue kemana-mana lagi”, gerutu Icha. ”Ato jangan-jangan lu incest yah Za?, lu suka kan ma gue? Lu suka ma adek kandung lu sendiri?” Kata Icha memvonis. ”Apa-apaan sich lu Cha? Gue ni kakak lu, gak mungkin lah gue suka ma elu. Lagipula gue juga udah punya cewek kok sekarang,” jawab Reza. ” Jadi lu dah punya cewek sekarang Za? Yah sapa tau lu punya cewek buat nutupin kelemahan lo yang incest, yang suka ma sodara kandung lo sendiri?”, Kata Icha lagi gak tau serius apa enggak. ”Udah lah Cha, lu tu emang keras kepala, kata Reza. ”Serah lo dech mau nganggap gue apa, gue incest kek, suka ma sodara kandung sendiri kek, yang penting gue bisa ngejagain en ngawasin lo kemana-mana. Semua itu gue lakuin karna gue sayang ma elo Cha, gue gak mau kehilangan elo. Cuma elo sodara gue yang gue punya saat ini. Kakak kita udah ninggalin kita 4 tahun yang lalu”, kata Reza dalam hati. Ingin dia katakan hal ini pada Icha, namun dia beranggapan bahwa Icha gak bakalan ngerti apa yang dia maksud. Akhirnya mereka pun sampai ke kampus.




”Lo masuk Psikologi ajah Cha”, kata Reza. ”Dikampus gue yang lama gue kan Ekonomi, gue masuk Ekonomi ajah!”, tolak Icha. ”Psikologi ajah, lebih bagus dan prospek kerjanya juga banyak Cha!, Reza tetap membujuk Icha. ”Haloo...Ini Indonesia kakakku sayang, kerja sekarang gak liat kita dari jurusan apa”, jelas Icha. ”Tapi Psikologi kayaknya cocok buat elo!”, Reza tetap memaksa. ”Za, yang mau kuliah gue ato elo sich? Kok jadi elo yang maksa-maksa gue buat masuk Psikologi?”, kata Icha dengan nada sedikit membentak. ” Gue gak maksa, gue cuma nyaranin Cha!, jawab Reza. ”Ya tapi gak gitu caranya”, kata Icha meninggalkan Reza. Reza pun mengejar Icha. Setelah melalui diskusi yang cukup lama akhirnya Icha pun memilih untuk masuk ke Fakultas Psikologi meskipun dia agak sedikit ragu tapi dia coba yakinkan dirinya bahwa dia bisa. Dia Cuma ingat pepatah yang mengatakan ”We Never Know If We Never Try It”.




Sebulan Icha kuliah di Fakultas Psikologi dia pun merasakan kegundahan didalam hatinya. Tapi dia terus yakinkan dirinya dan buang perasaan itu. Ia mencoba  melihat tiga bulan kedepan, jika memang benar-benar ia tidak kuat lagi dijurusan itu, ia akan langsung ngomong keorang tuanya untuk pindah jurusan. Dari awal dia sangat tertarik untuk masuk ke Fakultas Ekonomi.




Hari berganti hari, bulan berganti bulan Icha pun menjalani hari-harinya dengan ceria selama di Surabaya. Ia gak mikirin lagi pacarnya yang ia tinggali di Pekanbaru. Bahkan ia berniat untuk memutuskan pacarnya. Setelah melalui proses pemikiran, perenungan dan pertimbangan yang panjang akhirnya ia pun memilih untuk memutuskan pacarnya dengan alasan tidak bisa pacaran jarak jauh. Pacarnya pun tidak bisa berkata apa-apa lagi dan akhirnya mereka pun resmi putus. Dan pada saat yang sama ternyata Reza juga putus dengan pacarnya dan sekarang mereka sama-sama ngejomblo. Icha juga mulai mencari kesibukan dengan melanjutkan pekerjaannya seperti di Pekanbaru dulu yaitu jadi SPG freelance. Modelling? Ia masih mencari relasi di Surabaya. Ia benar-benar menikmati hari-harinya sebagai seorang jomblowati.




 Suatu hari, tepatnya jam 6 sore, Icha melihat kakaknya udah duduk di depan komputer. Mungkin mau ngerjain tugas pikirnya. Eh tapi biasanya juga ngerjain tugas dilaptop pikirnya lagi. Dia mendekati lagi kakaknya yang udah pewe didepan komputer dengan kaki dinaiki keatas kursi. ”Lagi ngapain lo Za?” tanya Icha sambil menepuk pundak Reza. ”Eh ni gue lagi chatting ajah”, napa? Lo mau pake komputer yah?”, tanya Reza dengan mata tetap terfokus pada layar komputer. ” Gak kok, nanya aja. Chatting ama sapa sich?” tanya Icha ikut-ikutan menatap layar komputer. ”Ada dech, mau tau ajah...Yang jelas pacar baru gue”, jawab Reza dengan santai. Icha pun membaca nama yang tertulis disitu Shinta Renanda. Akhirnya ia berinisiatif untuk mencari tau siapa gadis itu. Kenapa secepat itu kakaknya bisa dapat pacar baru lagi, padahal baru aja 2 hari putus dengan pacarnya. Icha pun membuka Facebook melalui ponselnya lalu membuka akunnya dan mencari nama Shinta Renanda. Lalu ia mengirimkan friend request kepada pemilik akun tersebut. Keesokan harinya Icha mendapat pemberitahuan dari akun Facebooknya, ”Shinta Renanda menerima permintaan pertemanan Anda”. Ia pun langung membuka nama pemilik Facebook itu dan melihat bahwa gadis itu sedang menjalin hubungan dengan seseorang yg jelas – jelas itu bukan nama kakaknya. ”Sialan, ni cewek mau main-main sama kakak gue”, katanya dalam hati.




Malamnya, ”Za, sapa Shinta Renanda?”, tanya Icha pada Reza saat lagi nonton TV. ”Shinta Renanda sapa? Yang mana? Gak kenal tuh gue”, jawab Reza cuek tanpa mempedulikan Icha. ”Lo jangan pura-pura lagi dech, cewek lo ya?”, tanya Icha tanpa basa-basi. ”Emank kenapa sich Cha?, tanya Reza udah gak fokus lagi sama apa yang ia tonton. ”Lo tau gak, dia itu udah punya cowok!”, kata Icha. ”Gue tau”, jawab Reza singkat. ” Terus kalo lo tau kenapa lo pacaran aman dia? Kan masih banyak cewek yang lain, setidaknya yang masih jomblo”, Kata Icha lagi setengah berteriak. ”Emang kenapa, salah gue pacaran ma cewek yang udah punya cowok?, salah gue pacaran ama pacar orang” tanya Reza lagi. ”Lu tuh bodoh apa begok sich Za, ya jelas salah lah. Lo bisa dianggap sebagai perusak hubungan orang atau perebut cewek orang Za!”, jelas Icha. ”Bodo’amat...Yang penting gue happy, kita berdua sama – sama happy” kata Reza dan melanjutkan acara nontonnya lagi. ”Iiikkhhh.....Sebel dikasi tau malah ngeyel!”, kata Icha gusar dan meninggalkan Reza lalu masuk kamar dan membanting pintu. Guubraaakkkk!!!!! ”Ichaaaaa.....Kurang keras Cha!” Teriak mama dari dalam kamar sebelah. ”Hihihi.....” Reza pun tertawa cekikikan.




Icha tetap tak habis pikir kenapa kakak tercintanya mau diduain sama cewek yang jelas-jelas udah punya cowok. Dia cuma dapat info kalau cewek itu mantan sahabat kakaknya waktu di Pekanbaru dulu, tapi apa urusannya lagi dengan abang gue, pikir Icha. Ia pun mulai mencari-cari info keorang-orang terdekat nya Reza mulai dari Mbak Nathrah yang kebetulan juga temenan sama cewek itu dan mas Ridho sahabatnya Reza sejak bangku sekolah pun jadi korban interograsinya. Tapi jawaban yang ia dapatkan tidak memuaskan. Akhirnya ia pun mulai capek, pasrah dan mengikhlaskan kakaknya buat pacaran ama sapa aja asal gak merepotkan dirinya.




Siang itu terdengar nada dering T-Pain yang berjudul Low dari HP Icha. ”Haloo”, jawab Icha. ”Cha, malam ini kita ada event promo di Malang. Acaranya dimajukan dari jadwal sebelumnya karena kita akan terus promo ke kota – kota  selanjutnya. Jadi sore ini kamu sama tiga orang temen satu tim mu bisa langsung berangkat ke Malang gak?” kata seorang pria dari seberang sana. ”Oh gitu ya mas, ntar Icha coba hubungi temen-temen yg lain dulu, moga-moga ja mereka bisa semua”, jawab Icha. ”Okey dech Cha, itu ajah yah, sampai ketemu di Malang”. Telpon pun tertutup. Icha langsung menghubungi ketiga temannya. Untungnya ketiga temannya itu bisa semua. Icha segera bersiap-siap. ”Tapi kita berangkat pake apa ke Malang”, bathin Icha. Ia pun beranjak kekamar Reza dan membuka pintu kamar Reza. Tampak Reza yang sedang tiduran sambil dengerin musik pun kaget dan marah-marah ”Lo ngagetin gue aja Cha, laen kali kalo mau masuk ketuk pintu dulu donk!”. ”Iya maap Za, lo bisa anterin gue ma temen-temen gue ke Malang gak sore ini?”, tanya Icha. ”Malang? Ngapain?”, tampak senang diwajah Reza karna bisa mengunjungi cewek itu yang kebetulan tinggal di Malang. ”Gue ada event malam ini di Malang, bisa yah?”, bujuk Icha. ”Ntar bensin biar gue yang isiin dech”, lanjut Icha lagi. ”Okelah...”, jawab Reza.


Sore itu pun mereka berangkat ke Malang. Tampak Icha dan temen-temennya begitu ceria sekali tidak seperti biasanya. Ia bahkan sempat mengatakan bahwa dia gak pernah merasakan sebahagia ini sebelumnya bersama teman-temannya. Dia juga bilang kalau suatu saat gue akan lebih bahagia lagi dari sekarang, mungkin tidak disini tapi disana begitu katanya. Reza yang mendengar itu hanya tersenyum saja karna Icha kalo ngomong emang suka lebay. Dan Icha pun mendapat gelar dari Reza, selain Miss Centil dia itu juga Miss Lebay.




Akhirnya sampailah mereka di Malang. Icha mulai sibuk dengan aktivitasnya dan Reza pun mempunyai kesempatan untuk menemui cewek yang bernama Shinta Renanda itu. Jam 09.30 Reza menelpon Icha. ” Cha, lo nginep mana malam ini?”. “Gue nginep dirumah temen gue Za, anak Malang” jawab Icha. “Beneran? Gak nginep ditempat Mbak Shinta aja?”, tawar Reza. “ Gak Za, gue disini aja, lo tau sendiri gue gak suka ama dia yang udah bodoh-bodohin abang gue”. “Mulai lagi dech lo…Udah dech kalo lo gak mau juga gak papa, yang penting lo jaga diri lo. Inget, lo tu cewek Cha!”, kata Reza yang selalu mengkhwatirkan adek kesayangannya. “ Iya Za, lo tenang aja. Gue bisa jaga diri kok”, jawab Icha. “Okey”, kata Reza. Tut…tut…Telpon pun terputus.




Icha mulai tertarik dengan salah seorang teman kerjanya. Namanya Bagus, cowok asal Semarang yang kini bekerja sebagai SPM (Sales Promotion Man) di Kota Malang. Mereka sudah saling kenal sejak 2 minggu yang lalu pada saat event di Surabaya dan sekarang baru ketemu lagi di Malang. Setelah selesai event malam itu, Icha dan Bagus pergi ke suatu cafe tak jauh dari lokasi event mereka. Setelah ngobrol panjang lebar tiba-tiba Bagus terdiam dan menatap mata Icha. Icha pun jadi gak enak hati  secara Icha memang suka sama Bagus, diliatin kayak gini tambah bikin dia ge-er. ”Cha, kamu cantik banget malam ini”, kata Bagus. Icha makin ge-er dan hatinya berdegug kencang, perasaannya udah mulai gak karuan serasa pengen terbang. ”Cha, aku suka ama kamu”, kata Bagus sambil memegang tangan Icha. ”Hah??? Ternyata dia punya perasaan yang sama ke gue”, pekik Icha dalam hati. ”Cuup...” Bagus pun mencium tangan Icha. ”Alamaaakk.....Matilah gue!”, Pekik Icha lagi dalam hati. ”Cha, kamu kok diem aja? Gimana, kamu mau gak jadi pacar aku?” tanya Bagus sambil menatap mata Icha dalam-dalam. ”Eee...Sebenarnya aa..aku juga suka sama kamu Gus”, jawab Icha terbata-bata. ”Oh ya? Jadi kamu mau donk jadi pacar aku?”, kata Bagus tersenyum senang. ” Eemh, ii...iiya...Aku mau kok jadi pacar kamu”, jawab Icha gugup. Perasaannya bener-bener udah gak ketulungan lagi, hatinya udah meleleh bak es batu. Akhirnya ia dapat pacar baru lagi, senengnya hati ini jeritnya dalam hati.




Malam pun semakin larut, namun mereka berdua belum juga beranjak dari tempat duduknya. Obrolan mereka semakin hangat dan intim. Tampak kini Bagus merubah posisi duduknya yang tadinya tepat didepan Icha sekarang sudah berada disamping Icha sambil merangkul bahu Icha dan kadang-kadang mendekatkan kepalanya ke wajah Icha seperti ingin menciumi gadis itu. HP Icha pun berdering, ”Cha, lo dimana? Dah pulang?”, ternyata Reza yang menelpon untuk memastikan keadaan Icha. ”Belom Za, ntar lagi. Ni juga masih sama temen-temen kok”, jawab Icha berbohong. ”Dah malem Cha, cepet pulang yah! Ingat, lo juga besok masih ada kegiatan”, Reza mengingatkan. ” Ya Za, makasih ya! Okey, abis ni gua langsung pulang kok.”, kata Icha. ”Ya udah, tiati ya Cha. Bye”, Reza pun menutup telponnya. ”Cha, kamu pulang aku anterin ya”, kata Reza menawarkan diri. ”Gak usah, aku bareng temen-temenku kok Gus ntar ngerepotin kamu lagi”, tolak Icha. ”Gak papa Cha, aku kan sekarang pacar kamu jadi gak ngerepotin kok”, rayu Bagus. Akhirnya Icha pun tak bisa menolak tawaran Bagus. Mereka beranjak pergi dan berjalan menuju parkiran lalu masuk kedalam mobil. Mobil pun keluar meninggalkan area parkiran dan melaju menyusuri Kota Malang yang dingin.




Esoknya, ”Za, aku pengen banget ketemu adekmu nich! Denger-denger dia kan gak suka ma aku, aku cuma pengen tau aja reaksinya dia kalo ketemu ma aku gimana”, kata Shinta kepada Reza kebetulan mereka sedang jalan-jalan bertiga plus ditemeni Ridho yang saat itu sedang jadi obat nyamuk karena ditinggal pacarnya pulang kampung. ”Gak usah lah Nta, ntar jadi berantem lagi”, jawab Reza sambil menyetir mobil. ”Berantem kenapa? Kan cuma ketemu”, tanya Shinta heran. ” Ya secara adekku katanya gak suka ama kamu, nah kamunya juga kayak gitu, ya kan?”, jelas Reza. ”Ya juga sich, tapi kan cuma ketemu doank. Kenalan gitu, kan kata orang tak kenal maka tak sayang. Nah, kita kan sama-sama gak suka karna kita belom saling kenal, mungkin aja kalo kita dah kenalan kita bisa jadi temen akrab”, Shinta masih mencoba membujuk Reza agar dikenalin dengan Icha. ”Kamu gak tau Nta adekku gimana, apalagi dalam situasi kayak gini mending gak usah dulu deh, lain waktu aja. Dia juga masih sibuk dan pasti capek, biasanya kalo orang capek emosinya kan labil”, Reza tetap menolak untuk mempertemukan Icha dengan Shinta. Daripada terjadi apa-apa nanti lagian ini tempat orang, pikir Reza. ”Gue tunjukin orangnya aja ya”, kata Reza sambil membelokkan mobil ke arah kanan. Mobil pun masuk ke area parkiran sebuah Mall dimana Icha sedang ada event promo disitu. ”Ntar aku telpon Icha dulu yah”, kata Reza sambil mengeluarkan HP dari saku celananya. Setelah menutup telpon Reza bilang ”anaknya sebentar lagi istirahat makan kok, kita tunggu aja disini”.  ”Disini??? Gak sumpek apa diparkiran kayak gini? Mending keluar yuk kan bisa cuci mata sekalian Za” protes Ridho. ”Gak lama kok Dho, Cuma pengen nunjukin anaknya aja kok ke Shinta”, jawab Reza.




Beberapa menit kemudian, ”Tu loh Nta adekku”, kata Reza sambil menunjuk ke arah Icha yang sedang berjalan keluar ke arah parkiran mobil dan masuk kedalam sebuah mobil sedan berwarna merah. ”Ya ampun...cakep banget!” teriak Shinta dalam hati. Lama Shinta terpana memandang Icha yang tinggi semampai bak model itu. Reza pun mengibas-ngibaskan tangannya didepan mata Shinta. ”Hei...Kok liatin adekku sampe segitunya sich? Ada apa?”, tanya Reza. ”Eh...oh gak kok Za, adekmu cakep banget!”, jawab Shinta kelagapan. ” Lo ja yang cewek bilang cakep Nta, apalagi gue. Malah gue dulu sempet naksir ma Icha. Kalo bukan adeknya sohib gue yang satu ini udah gue pacarin tuh anak!”, kata Ridho sambil melirik-lirik ke Reza. Reza pun membalikkan badan kearah Ridho dan mengepalkan tangannya didepan wajah Ridho. Ridho pun tertawa cekikikan.




Setelah tiga hari berada dikota Malang dan malam ini mereka pun berencana pulang ke Surabaya. ”Gak besok pagi ajah Za balik ke Surabaya, ni kan dah malem” kata Shinta. ”Gak Nta, besok pagi aq ada kuliah”, jawab Reza. ”Ya udah kalo gitu, kamu hati – hati ajah yah Za, salam buat Icha. Nyetirnya jangan ngebut – ngebut Za”, tambah Shinta. ”Iya Nta...Tenang ajah”, jawab Reza santai lalu mengecup kening Shinta dan berjalan menuju mobilnya. ”Aku jalan dulu yah Ta, bye...” kata Reza setelah menyalakan mesin mobilnya sambil melambaikan tangan kemudian mobil pun melaju. Reza akan menjemput Icha ditempat kerjanya lalu pulang ke Surabaya. Jam sudah menunjukkan pukul 10.00 wib.




Setelah 2 hari kepulangan mereka dari Malang Icha tampak aneh dimata Reza. Dia jadi lebih pendiam, pemurung dan sering mengurung diri dikamar. Terkadang Reza mendengar suara tangisan di kamar Icha. Icha nangis, kenapa yah?, pikir Reza. Reza khawatir Icha kenapa – kenapa. Jika ditanya Icha selalu menjawab gak ada apa –apa, cuma lagi gak enak badan katanya. Reza pun mencoba bertanya kepada teman – teman icha yang ikut ke Malang kemaren. Tapi diantara mereka gak ada yang tahu kenapa Icha jadi mendadak berubah seperti itu.




Suatu malam Reza lagi nonton TV diruang tengah. Tiba – tiba Icha keluar dari kamarnya berjalan keruang tengah dan duduk bersama Reza yang lagi asyik menonton TV sambil tiduran di sofa. Reza diam tak berkata apa – apa hanya memperhatikan icha dengan seksama. Icha menatap TV dengan pandangan kosong bahkan ada adegan lucu di TV pun ia tidak tertawa, senyum pun tidak. Tiba – tiba air mata Icha jatuh ke pipinya. Reza yang melihatnya pun langsung bangkit duduk dan mendekati Icha. ”Lo kenapa Cha? Kok nangis? Lo ada masalah?”, tanya Reza sambil memegang bahu Icha. Icha menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya. Tampak bahunya berguncang keras, ia menangis terisak – isak. ”Udah beberapa hari gw liat lo murung trus, kalo ada masalah cerita ama gw Cha, gw kakak lo”, tambah Reza sambil membelai rambut Icha dengan lembut. Icha masih terisak dan tak menjawab Reza. ”Cha, plis lo jangan nangis kayak gini, gw sedih ngeliat lo kayak gini Cha”, kata Reza lagi sambil memeluk Icha. Icha pun membenamkan kepalanya didada Reza. ” Lo boleh cerita apa ajah ke gw Cha, gw gak akan bilang ke sapapun termasuk mama ato papa. Gw janji ini jadi rahasia kita berdua, asal lo mau cerita ke gw, mungkin gw bisa bantu lo”, Reza pun mulai menitikkan air matanya. Cowok ini memang paling tidak bisa melihat cewek menangis, apalagi yang menangis ini adalah adik perempunnya sendiri. Icha pun mendongakkan kepalanya dan menatap Reza. ”Za, gw mao cerita ama lo, tapi gw gak yakin kalo lo bisa bantu gw”, kata Icha dengan terisak. ”Cha, lo belom cerita apapun ke gw”, jawab Reza sambil tersenyum. ”Tapi gw rasa gak ada gunanya gw ceritain ini semua ke lo Za”, kata Icha lagi. ”Kalo gak ada gunannya kenapa lo nangis kayak gini Cha?”, kata Reza sambil menghapus air mata dipipi Icha. ”Cerita Cha”, kata Reza membujuk Icha sambil menepuk bahu Icha memberi semangat. Icha pun tertunduk beberapa saat. ”Za, gw...gw...”Icha pun tak meneruskan kalimatnya. ”Ya...Terus”, kata Reza sambil mendekatkan diri ke Icha. ”Gw udah gak perawan lagi Za...” kata Icha sambil berusaha menahan tangis namun ia tak dapat membendung air matanya dan ia pun menjatuhkan dirinya didada Reza. Reza diam tak dapat berkata apa – apa. Dia diam seribu bahasa bahkan memeluk Icha ia pun tidak. Icha pun semakin keras tangisnya. Tiba – tiba Reza berkata ”Cha, sapa orang yang dah ngerusak lo? Kasi tw gw Cha...”, kata Reza. Tampak air mata reza mulai meleleh. Ia kecewa sekali. Ia merasa gagal menjadi kakak yang baik buat Icha, gagal menjadi pelindung Icha, gagal menjaga Icha, gagal semuanya. Ia pun lalu mendekap Icha dengan erat. ”Bagus Za”, jawab Icha masih berada didekapan Reza. Reza pun melepaskan dekapannya. ”Kasi tw gw yang mana orangnya Cha”, biar gw hajar kata Reza. Icha diam dan terus menangis. ”Dia temen kerja lo kan?”, tanya Reza. Icha mengangguk. ”Jadi malam itu lo sama dia? Berarti lo bohongin gw Cha”, kata Reza kecewa. Lagipula gw dah bilang, lo bisa nginep dirumah mbak Shinta ajah, tapi lo...Akh sudah lah”, kata Reza menepuk bantal dengan kesal. Tampak guratan kecewa yang sangat dalam diwajahnya.




Beberapa hari kemudian, Icha masih tak berubah. Ia masih tetap suka mengurung diri dikamarnya. Orang tua mereka tidak tahu sama sekali tentang masalah ini dan tidak melihat adanya perubahan di diri Icha. Secara kedua orang tua mereka jarang berada dirumah dan sibuk dengan pekerjaan masing – masing. Papa mereka bekerja di sebuah perusahaan swasta yang cukup ternama di Surabaya dan sekarang sedang berada diluar kota tepatnya di Balikpapan. Mama mereka sibuk dengan bisnis kateringnya dan memiliki beberapa butik dibeberapa kota di Jawa Timur. Cuma Reza yang memberikan perhatian lebih ke Icha dan menumpahkan perasaan sayangnya ke Icha dengan merawat Icha dan menuruti semua keinginan Icha.




Suatu malam, Reza tidur dikamarnya dengan perasaan tidak tenang. Matanya mengantuk tapi ia tidak dapat tidur sama sekali. Ia masih kepikiran adiknya Icha. Sayup – sayup terdengar suara Icha yang sedang menangis. Reza sungguh tidak tega melihat adiknya begitu menderita. Besok juga ia berencana ke Malang dan mencari pria yang telah menyakiti adiknya. Ia berusaha memejamkan matanya.




”Icchaaaaaaaaaaaaaaaaa....................” terdengar teriakan mama dari kamar Icha. Reza pun terbangun dari tidurnya namun masih belum beranjak dari tempat tidurnya. Ia berusaha mendengarkan lagi siapa yang berteriak. ”Ichaaaa.......Ichaaaa.......”. Hah? Icha? Kenapa mama manggil – manggil Icha, kemana sih tu anak pagi – pagi dah ngilank?, pikir Reza. Ia pun bangun dan berjalan menuju kamar Icha. Reza terperanjak begitu sampai didepan kamar Icha. Yang dilihatnya Kepala Icha sudah sudah menggantung ditempat tidur dengan mulut penuh busa. Tampak ditangannya ia memegang sekotak obat tablet berwarna putih . Dan mama terduduk dibawah tempat tidur sambil memegang tubuh Icha yang sudah tak bergerak lagi. Wajahnya sangat pucat. Reza ternganga melihat semua pemandangan itu. Lalu ia berjalan mendekati tubuh Icha dan menyentuh Icha sambil memanggil - manggil nama Icha. ”Cha...Cha...Ini gw Cha, bangun Cha. ”Ma, kenapa dengan Icha Ma?”, tanya Reza. ”Mama gak tau Za, mama masuk mau bangunin Icha tiba – tiba dia udah kayak begini Za”, kata mama sambil terisak. Reza pun memegang pergelangan tangan Icha mencoba merasakan sesuatu. ”Dia masih idup ma, kita bawa dia kerumah sakit ajah ma”, kata Reza lalu menggotong tubuh Icha dan memasukkannya kedalam mobil.




Mobil pun melaju dengan kencang menuju rumah sakit. Sesampai dirumah sakit Icha langsung dibawa menuju ruang UGD. Reza dan mama menunggu di ruang tunggu.Shinta yang mendapat kabar itu dari Ridho pun langsung terlonjak kaget karena Reza sama sekali tak memberi tahunya dan mereka langsung bergegas ke kota Surabaya menggunakan bis kota. Suasana Idul Adha masih terasa karena sehari sebelumnya adalah Idul Adha dan bau kambing pun masih dimana – mana. Shinta dan Ridho langsung menuju kerumah sakit menggunakan taxy beberapa menit kemudian mereka pun sampai dirumah sakit dan tampak Reza yang sedang berdiri terdiam mematung didepan pintu ruangan UGD. Tak lama dokter keluar dan mengatakan kalau adiknya Icha sudah tak bisa diselamatkan lagi. Ia telah tiada. Sontak Reza pun berteriak, menangis dan terduduk dilantai rumah sakit. Shinta dan Ridho yang ada disitu pun ikutan duduk dilantai sambil menenangkan Reza sedangkan mama Reza pingsan dan dirawat oleh suster.




Jenazah pun dibawa pulang kerumah, dimandikan dan ingin dimakamkan hari itu juga. Papa Reza yang baru datang dari luar kota juga menangis histeris apalagi Icha meninggal sehari sebelum ulang tahunnya. Papanya sudah membelikan sebuah mobil baru Suzuki Swift berwarna pink seperti permintaan Icha namun masih disimpan dirumah Tantenya. Di pekaman, Reza tak dapat menahan tangis karena Icha adalah satu – satunya saudara kandung yang tertinggal setelah kakaknya Arieska Egidia Savitri meninggal ditahun 2003 akibat kecelakaan setelah dugem ketika itu Reza masih duduk dibangku kelas 3 SMP. Shinta dan Ridho berusaha menenangkan Reza dan menghibur Reza yang merasa begitu tertekan dan kehilangan atas kepergian adiknya. Ariesta meninggal tepat satu hari setelah Idul Adha, satu hari sebelum ulang tahunnya dan 2 hari sebelum tahun baru 2010. Ini benar – benar kado tahun baru yang paling buruk yang pernah ia dapatkan pikirnya.




Hari berganti hari Reza pun menjalani hari – harinya tanpa adik tersayangnya. Hubungannya dengan Shinta semakin renggang namun mereka masih selalu berkomunikasi karena mereka memang berhubungan jarak jauh pada waktu itu. Sebenarnya Shinta memang sudah punya pacar tetapi hubungannya dengan pacarnya itu sudah sangat monoton dan pacarnya tidak bisa memberi apa yang Shinta butuhkan baik itu dalam segi perhatian, kasih sayang dan hal lain. Dan Reza pun datang dengan segala ketulusannya. Tadinya mereka sama sekali tidak ada keinginan untuk berpacaran selain Shinta adalah mantan sahabatnya waktu SMA dulu mereka juga telah berteman lama. Tapi makin lama perasaan diantara mereka semakin kuat saja dan akhirnya mereka pun memutuskan untuk pacaran ya mungkin hanya sekedar coba – coba jika saling merasa cocok diteruskan jika tidak itu tidak menjadi masalah bagi mereka berdua karena mereka sudah siap dengan segala resikonya dari sahabat menjadi pacar memang tidak mudah.


Dan kenyataannya memang tidak mudah, Shinta pun merasa bosan dengan hubungan ini karena selain mereka LDR, Reza juga seperti semakin menjauhi Shinta. Seharusnya Shinta bisa mengerti akan keadaan Reza yang baru saja ditinggal adiknya apalagi itu adik satu – satunya, adik tersayang Reza tapi heiii ini sudah berjalan 3 bulan namun Reza masih tenggelam dengan kesedihannya. Shinta pun meminta untuk mengakhiri hubungan mereka tapi mereka masih akan tetap manjadi sahabat yang saling menjaga dan mengingatkan walaupun jauh dan sudah tidak bersama lagi. Reza pun tak dapat menolak dan mengiyakan karena dia juga sedang tidak fokus dengan hubungannya dan kuliahnya sendiri dan masih larut dalam kesedihannya yang sudah berlangsung selama 3 bulan. Yang Reza pikirkan hanyalah dia merasa gagal menjadi seorang kakak bagi adeknya, dia tidak bisa menjaga adiknya dengan baik sampai adiknya harus ditiduri lelaki brengsek, depresi lalu bunuh diri dan sekarang meninggal dengan sia - sia. Namun apalah daya nasi telah menjadi bubur. Apapun yang ia sesali tak akan pernah kembali lagi begitu juga dengan adiknya.




Ariesta Egidia Savitri, namamu kini hanya tinggal kenangan...


Tapi tingkahmu yang lucu dan kadang menyebalkan, sifatmu yang manja dan parasmu yang cantik akan tetap melekat dihati Reza, selamanya...

1 comment:

  1. aku pernah baca ini klo gak salah wktu kamu posting difacebook dulu kak.
    sungguh mennyentuh sekali, smoga ad pelajaran didapat dr sini.
    smoga almarhumah ditempatkan ditempat yg mulia.

    ReplyDelete

AWAL MUA GUE SUKA BIGBANG

Selamat siang gaeees selamat berhari minggu. Udah 1 bulan gue gak update kayaknya belum istiqomah sama niat nih wakakakak sebentar muncul s...